Kesenian Jaranan. Mungkin sebagian pembaca sudah sangat akrab dengan “Seni Jaranan”
Penamaanya sendiri kesenian ini pada masing-masing daerah terdapat perbedaan. Namun kesemuanya punya citarasa yang sama dan selalu diidentikan dengan peng-istilah-an “Kuda Buatan/Mainan“.
Pada kegiatan kali ini, Selasa 29-10-2019 dirumah Suparno salah satu warga dusun dampar desa Bades Kecamatan Pasirian Kabupaten lumajang. KIM BIMO sengaja hadir, untuk memberikan dukungan semangat bagi anak anak muda. Yang ikut jaranan sebagai wujud untuk melestarika budaya seni jaranan.
Putro Budoyo yang dipimpin oleh Bapak Imam Sapi'i, disela sela latihan kali ini beliau mengatakan bahwa seni jaranan ini, adalah sebuah pertunjukan rakyat.
Jaranan adalah salah satu seni tradisional yang cukup tersebar di Propinsi Jawa Timur yang harus dilestarikan sebagai kesenian tradisional.
Ritual-ritual yang didalamnya terdapat seni Jaranan biasanya berkisar pada selamatan bersih desa dari “Pageblug” segala marabahaya atau penganggu desa.
Sebagai pembuka biasa diawali hadirnya Pawang (Pemimpin Pertunjukan). Pawang membawa cemeti (Cambuk) yang di cambukkan ke tanah berkeliling mengitari area pertunjukan. Kata Imam Sapi'i.
Jaranan adalah sebuah arti " jaran " (bahasa jawa) atau kuda melambangkan kekuatan dan " an " adalah tidak/bukan. Dalam bahasa jawa disebut jaran atau kuda hewan sebagai simbol kekuatan.












